Pada
bulan Agustus 1949, terjadi sebuah perundingan yang mengubah status otonomi
menuju sebuah negara kesatuan republik Indonesia yang mandiri. Perundingan ini
sedang diatur antara federasi bayangan republik indonesia dengan daerah lokal
yang di dukung oleh Belanda. Pda saat inilah sebuah kongres pemuda indonesia
diselenggarakan di Yogyakarta. Pengertian pemuda Indonesia lebih merujuk pada
barisan revolusioner yang membentuk aliran keras dari perjuangan kaum republik untuk memperoleh kemerdekaan.
Sepanjang tahun 1949, seperti pergerakan kaum republik pada umumnya, gerakan
radikal pemuda menghadapi ancaman serius karena keberadaan negara bagian
federasi yang disponsori oleh Belanda.
Kongres
pemuda 1949 dihadiri oleh pemuda pendukung federasi dan republik. Pada
tahap-tahap tertentu sering timbul ketegangan di antara kedua pihak. Menurut
sebuah laporan mengenai kongres yang dibuat tidak lama, banyak kelompok pemuda
radikal yang tidak hadir pada kongres. Sementara para Pemuda Republik berbicara
secara terbuka dan bebas, mereka yang balik ke wilayah yang di atur oleh
Belanda memilih untuk berhati-hati dan menjaga jarak pada saat berdiskusi.
Ketegangan dan kesulitan yang timbul diakhiri dengan gemilang pada akhir
kongres. Sang pembuat laporan, Supardo memuji pemimpin kongres atas kesuksesan
dalam mencapai sebuah konsesus antara kedua kelompok (Hardjito 1952 ; 140).
Salah satu isi dari resolusinya mengandung sebuah “sembojan perdjuangan” dan
berbunyi sebagai berikut :
-
Satu bangsa – Bangsa Indonesia
-
Satu Bahasa – Bahasa Indonesia
-
Satu tanah air – tanah Air indonesia
-
Satu negara – Negara Indonesia
(Hardjito, 1952: 141)
Pada
sebuah pernyataan yang dibacakan pada tahun 1948, pemimpin muda Soemarsono
menganalisa sejarah dari pemuda. Ia tidak mengacu pada oktober 1928, tetapi
pada pemberontakan Indonesia Muda pada tahun 1930 yang dikenal dengan Tiga
Sembojannya. Armijin Pane, pengarang dan penulis esei adalah salah seorang tokoh kunci dalam
mempromosikan Indonesia sebagai sebuah budaya dan bahasa selama periode tekanan
politis terhadap nasionalisme sebelum 1930-an dan sesudahnya. Armijin
mengomentari suatu bentuk pendek satu bahasa dari versi yang dikutip oleh
Soemarsono dalam sebuah artikel di tahun 1949. Sembari melaporkan sebuah konferensi
pelajar yang baru saja diselenggarakan di Bandung, Armijin berkomentar bahwa
semangat persatuan yang telah dibuktikan oleh pelajar-pelajar yang berasal dari
Republik dan Negara bagian yang di sponsori Belanda yang mengindikasikan adanya
kesinambungan dari perjuangan yang dimulai pada tahun 1926.
Sejak
1949, ingatan terhadap sejarah mulai goyah. Armijin Pane adalah seorang
komentator yang tahu banyak informasi serta dari Jong Bataks Bond pada saat
kongres pemuda 1928. Ia juga seorang pengkritik yang rajin dan penganalisa yang
simpatik terhadap perkembangan persatuan budaya Indonesia modern pra 1930-an
dan sesudahnya. Fakta bahwa ia berpegangan terhadap formula ‘berbahasa satu’
sebagai pernyataan yang dibuat pada tahun 1928 menunjukkan bahwa pengerjaan ulang
terhadap cacatan sejarah mulai berjalan sejak saat itu. Petunjuk penting dari
situasi yang mendukung pengerjaan ulang terletak pada catatan yang dibuat pada
kongres Bahasa Indonesia 1 tahun 1938. Kongres ini di selenggarakan di
surakarta pada bulan Juni 1938. Sekilas,
kongres mengenai bahasa Indonesia yang pertama
ini lebih seperti sebuah ajang akademik dan ilmiah daripada sebuah acara
dengan kepentingan politis tertentu. Komisi penyelenggaranya diketahui oleh
yang terhormat Dr. Hoessein Djajadiningrat dan Fr. Poerbatjaraka menjabat
sebagai komisaris kongres umumnya sangat ilmilah. Kebanyakan para pembiacaramenyentuh
hal-hal yang bersifat teknis, seperti proses standardisasi penginstitusian
terhadap penggunaan bahasa nasional.
Yamin
sangat diasosiasikan dengan kepemimpinan politis pergerakan pemuda selama masa
revolusi. Ia adalah anggota dari kelompok serikat perjuangan yang bergerak melawan
perdana menteri Republik Sjahrir pada bulan Juni 1946. Akibat perbuatannya itu,
ia dipenjara selama dua setengah tahun (Anderson, 1972: 380). Pada bulan-bulan
terkahir periode revolusi, Yamin tidak ada di Indonesia. Ia menjadi anggota tim
perundingan konferensi meja bundar di Belanda. Namun, Tabrani saat itu ada di
Indonesia. Tabranil-lah yang berjuang untuk semakin meningkatkan efek
kebangkitan sumpah pemuda. Maka, pada akhir tahun 1949 Indonesia bergerak
menuju kemandirian dengan sebuah simbol kebangsaan yang khas, sedang dalam
proses pembentukan serta siap untuk dimasukkan kedalam bagian ideologi dari
sebuah negara Indonesia yang independen. Sampai tahun 1950, telah ada tiga
bentuk dari “sumpah” yang dihasilkan pada tahun 1928. Sumpah ini adalah
kesadaran awal dari timbulnya keinginan untuk “menghargai” bahasa Indonesia
sebagai “bahasa persatuan”, meski tersembunyi oleh deklarasi yang menyatakan “kita
memiliki satu bahasa. Indonesia’, tepatnya “satu bahasa – indonesia”. Pada titik
ini, baik kata-kata, tanggal, maupun idiom sumpah pemuda tidak pernah menjadi
bagian dari sejarah nasional bangsa indonesia. Meski tidak dalam waktu yang
singkat, perkembangan ini pasti berjalan sebagai sebuah keterkaitan antara pribadi-pribadi tertentu, kebutuhan
politik yang mendesak, serta sumbangan terhadap sejarah prakemerdekaaan
mengenai asal usul bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar