Rabu, 16 Oktober 2013

Makna dan Proses penciptaan simbol kebangsaan Indonesia

Salah satu tonggak penting dalam sejarah nasional bangsa indonesia pada ke-20 adalah sumpah pemuda, yaitu deklarasi atas kesatuan bangsa tanah ini dan bahasa yang disusun pada sebuah kongres organisasi-organisasi pemuda nasional di Jakarta sekitar akhir Oktober 1928. Saat ini perayaan deklarasi dianggap sebagai hari nasional di Indonesia. Oleh sebab itu, didesainlah sebuah peringatan dalam skala besar untuk mengingatkan pemuda indonesia akan takdir kesejarahan mereka. Perayaan sumpah pemuda diselenggarakan setiap tahun dibawah pengaruh pemerintah. Sumpah pemuda tersebut telah diasosiasikan lebih kepada pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, juga diikuti dengan sejarah perkembangan bahasa, penggunaannya dan standardisasinya baik dalam ulasan umum dan akademis, pengakuan positif yang beragam bahwa “ bahasa indonesia dinyatakan sebagai Bahasa Nasional pada Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 diketahui secara luas. (Abas, 1987: 38; Herbert danMilner, 1989:125). Berbicara di depan kerumunan massa Pemuda Indonesia di Stadion Olahraga Senayan Jakarta dalam rangka perayaan Sumpah Pemuda yang ke-50 pada tahun 1978 Presiden Soeharto membuka catatan tentang peran sejarah Pemuda Indonesia dengan kata-kata berikut “Tepat 50 tahun yang lalu, di Jakarta ini lahirlah Sumpah Pemuda yang sangat terkenal” :
-          Mengaku Berbangsa satu, Bangsa Indonesia
-          Mengaku bertanah air satu, Tanah Air Indonesia
-          Mengaku berbahasa satu, Bahasa Indonesia
Kongres pemuda Indonesia Oktober 1928 mmang sebuah penting. Selain itu, deklarasi yang kemudian dikenal sebagai Sumpah pemuda ini merupakan penampilan publik pertama dari idiom bahasa Indonesia, suatu istilah untuk menggambarkan bahasa melayu sebagai persatuan bahasa Indonesia. Memangada saatnya ketika gambaran akan bangsa-bangsa serta penciptaan tradisi-tradisi telah menjadi kerangka pemikiran yang mantap. Dalam kondisi demikian, tidaklah mengherankan jika tinjauan  singkat terhadap catatan sejarah Sumpah Pemuda sebagai simbol kebangsaan Indonesia tampak menjadi lebih kompleks dari yang seharusnya. Hal ini terindikasi dalam sebuah hal yang sepertinya kecil, tapi ternyata penting, yaitu dalam pidato pembukaan presiden Soeharto dalam perayaan Sumpah Pemuda yang ke-50. Bagian ketiga dari deklarasi 1928, seperti sudah sering diingatkan oleh beberapa orang yang ilmuwan dan berkomentar yang teliti, sebenarnya bunyinya demikian :
Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mendjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa indonesia.
Kenyataannya catatan sejarah menunjukkan bahwa sumpah pemuda yang kita kenal sekarang seperti juga yang selalu dilansair Presisen-Presiden Indonesia lebih merupakan suatu konstruksi dari para pembangunan bangsa dan ideologi ideologi dari generasi-generasi yang berbeda masanya daripada momen berdiri suatu bangsa dan bahasa nasional. Kentayaannya pengertian yang kedua inilah yang lebih dipahami secara umum. Konstruksi simbol dan arti-arti yang melekat padanya melalui periode-periode yang berbeda dalam sejarah prakemerdekaan Indonesia sesungguhnya mengingatkan pada sebuah kebutuhan nasionalisme akan suatu sejarah teologis atas asal usulnya. Konstruksi simbol ini juga berguna untuk mengilustrasikan bagaimana konstruksi prokolonial pada masa lalu selalu terikat pada kondisi khusus dari visi politik dan ideologi kontemporer. Sebuah bangsa harus mempunyai sejarah dan hal itu berperan dalam pembentukan keberadaan bangsa tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar