Salah
satu tonggak penting dalam sejarah nasional bangsa indonesia pada ke-20 adalah
sumpah pemuda, yaitu deklarasi atas kesatuan bangsa tanah ini dan bahasa yang
disusun pada sebuah kongres organisasi-organisasi pemuda nasional di Jakarta
sekitar akhir Oktober 1928. Saat ini perayaan deklarasi dianggap sebagai hari
nasional di Indonesia. Oleh sebab itu, didesainlah sebuah peringatan dalam
skala besar untuk mengingatkan pemuda indonesia akan takdir kesejarahan mereka.
Perayaan sumpah pemuda diselenggarakan setiap tahun dibawah pengaruh
pemerintah. Sumpah pemuda tersebut telah diasosiasikan lebih kepada pengakuan
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, juga diikuti dengan sejarah
perkembangan bahasa, penggunaannya dan standardisasinya baik dalam ulasan umum
dan akademis, pengakuan positif yang beragam bahwa “ bahasa indonesia
dinyatakan sebagai Bahasa Nasional pada Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober
1928 diketahui secara luas. (Abas, 1987: 38; Herbert danMilner, 1989:125).
Berbicara di depan kerumunan massa Pemuda Indonesia di Stadion Olahraga Senayan
Jakarta dalam rangka perayaan Sumpah Pemuda yang ke-50 pada tahun 1978 Presiden
Soeharto membuka catatan tentang peran sejarah Pemuda Indonesia dengan
kata-kata berikut “Tepat 50 tahun yang lalu, di Jakarta ini lahirlah Sumpah
Pemuda yang sangat terkenal” :
-
Mengaku Berbangsa satu, Bangsa Indonesia
-
Mengaku bertanah air satu, Tanah Air
Indonesia
-
Mengaku berbahasa satu, Bahasa Indonesia
Kongres
pemuda Indonesia Oktober 1928 mmang sebuah penting. Selain itu, deklarasi yang
kemudian dikenal sebagai Sumpah pemuda ini merupakan penampilan publik pertama
dari idiom bahasa Indonesia, suatu istilah untuk menggambarkan bahasa melayu
sebagai persatuan bahasa Indonesia. Memangada saatnya ketika gambaran akan
bangsa-bangsa serta penciptaan tradisi-tradisi telah menjadi kerangka pemikiran
yang mantap. Dalam kondisi demikian, tidaklah mengherankan jika tinjauan singkat terhadap catatan sejarah Sumpah
Pemuda sebagai simbol kebangsaan Indonesia tampak menjadi lebih kompleks dari
yang seharusnya. Hal ini terindikasi dalam sebuah hal yang sepertinya kecil,
tapi ternyata penting, yaitu dalam pidato pembukaan presiden Soeharto dalam
perayaan Sumpah Pemuda yang ke-50. Bagian ketiga dari deklarasi 1928, seperti
sudah sering diingatkan oleh beberapa orang yang ilmuwan dan berkomentar yang
teliti, sebenarnya bunyinya demikian :
Kami Poetra dan Poetri
Indonesia Mendjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa indonesia.
Kenyataannya
catatan sejarah menunjukkan bahwa sumpah pemuda yang kita kenal sekarang
seperti juga yang selalu dilansair Presisen-Presiden Indonesia lebih merupakan
suatu konstruksi dari para pembangunan bangsa dan ideologi ideologi dari
generasi-generasi yang berbeda masanya daripada momen berdiri suatu bangsa dan
bahasa nasional. Kentayaannya pengertian yang kedua inilah yang lebih dipahami
secara umum. Konstruksi simbol dan arti-arti yang melekat padanya melalui
periode-periode yang berbeda dalam sejarah prakemerdekaan Indonesia
sesungguhnya mengingatkan pada sebuah kebutuhan nasionalisme akan suatu sejarah
teologis atas asal usulnya. Konstruksi simbol ini juga berguna untuk
mengilustrasikan bagaimana konstruksi prokolonial pada masa lalu selalu terikat
pada kondisi khusus dari visi politik dan ideologi kontemporer. Sebuah bangsa
harus mempunyai sejarah dan hal itu berperan dalam pembentukan keberadaan
bangsa tersebut.